Pada tanggal 14 Desember 2022 dalam wawancara eksklusif dengan jurnalis surat kabar Swiss “Tages Anzeiger” yang dilakukan melalui konferensi video, Menlu Joseph Wu memaparkan situasi lintas selat, hal-hal yang dapat dipelajari dari invasi Rusia terhadap Ukraina, serta hubungan bilateral Taiwan-Amerika Serikat, dan Taiwan-Swiss. Wawancara tersebut telah dipublikasikan pada tanggal 17 Desember 2022.
Menlu Joseph Wu menjelaskan Taiwan tidak mengambil sikap bersenang-senang di atas penderitaan, atau bernapas lega terhadap huru-hara dan masalah dalam negeri yang dihadapi Tiongkok baru-baru ini, melainkan memantau dengan cermat apakah Tiongkok berniat untuk mengalihkan perhatian dari kekacauan internal dengan menciptakan krisis eksternal.
Tahun ini pesawat militer Tiongkok telah mengelilingi Taiwan 3.000 kali. Angka tersebut naik drastis dari 380 kali pada 2 tahun lalu, dan 973 kali pada tahun lalu. Tiongkok juga memberlakukan larangan impor terhadap produk bir dan makanan laut Taiwan, melancarkan serangan siber dan disinformasi, serta bermacam serangan majemuk lainnya. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa terdapat kemungkinan Tiongkok sedang bersiap diri untuk menyerang Taiwan.
Taiwan terletak pada rantai pulau pertama yang merupakan posisi penting dan harus dilalui oleh Tiongkok untuk berekspansi di kawasan Pasifik. Taiwan juga merupakan pusat semikonduktor global, dan terdapat kemungkinan Tiongkok berambisi untuk menguasai keunggulan Taiwan tersebut. Hal yang lebih penting lagi adalah Tiongkok melihat demokrasi, kebebasan, dan hak asasi manusia di Taiwan sebagai ancaman terbesar bagi kediktatoran Tiongkok. Taiwan akan menanggapi provokasi Tiongkok dengan bersikap tenang dan rasional serta bertanggung jawab, dan dengan langkah tersebut Taiwan berhasil meraih dukungan komunitas internasional.
Menlu Joseph Wu menegaskan sebagai menteri luar negeri, ia harus mendukung teguh posisi pemerintah untuk melindungi status quo. Yang dimaksud dengan “status quo” adalah kedua belah pihak dalam lintas selat tidak saling tunduk atas satu sama lain. Ini adalah fakta yang telah berjalan selam 60-70 tahun.
Perlawanan Taiwan terhadap Tiongkok adalah bagaikan kisah Daud melawan Goliat dalam Alkitab. Saat ini dunia sedang melihat perlawanan Ukraina terhadap Rusia. Taiwan bersama negara-negara lainnya telah memberlakukan sanksi terhadap Rusia, memberikan bantuan kemanusiaan untuk Ukraina, dan menarik pelajaran dari peperangan tersebut.
Selain Amerika Serikat yang terus melaksanakan komitmen terhadap keamanan Taiwan melalui Taiwan Relations Act, baru-baru ini negara-negara G20, Uni Eropa dan negara-negara demokrasi lainya terus menyatakan penolakan terhadap perubahan status quo di Selat Taiwan secara sepihak.
Menlu Joseph Wu mendorong Swiss yang selama ini melaksanakan kebijakan netral untuk lebih netral salam masalah lintas selat, karena Tiongkok adalah sebuah rezim otoritarianisme yang sering menindas negara-negara demokrasi. Menlu Joseph Wu berharap Taiwan dan Swiss dapat bekerja sama di berbagai bidang, termasuk dalam menghadapi disinformasi, dan ancaman majemuk.